Wah Mandi Bersama Pasangan Meningkatkan Romantisme Keluarga

Cinta

Wirawan - Wah, apa yang terpikir di kepala anda jika mandi bersama dengan lawan jenis? Pria dengan wanita atau sebaliknya. Pasti akan meningkatkan adrenalin anda sehingga jantung anda bisa berdegub lebih kencang. face01

Mandi dengan pasangan ternyata bisa meningkatkan keintiman, keharmonisan dan keromantisan dalam rumah tangga. Dan tentunya membuat suasana mandi menjadi lebih menyenangkan dan tambah 'hot'.

Namun, siapa sangka langkah sederhana ini bisa anda sesekali anda lakukan dengan pasangan anda. Pasangan disini maksudnya dengan suami dan istri ya. Bukan yang lain.

Tanpa disadari langkah yang terbilang 'nekat' ini ternyata bisa membuat anda semakin dekat dengan pasangan. Disaat mandi bersama anda bisa saling memahami satu sama lain.

Mandi bersama pasangan ini bisa dilakukan saat anda dalam keadaan jubub secara bersama-sama. Hal ini bukanlah perkara yang tidak ada syariatnya namun pernah dilakukan oleh Rasulullah bersama dengan istrinya.

Selain mengikuti sunnah, mandi bersama pasangan juga memiliki faidah sebagaimana salah satunya kami kutip berikut ini.

Antara suami istri boleh memandang satu dan lainnya, tidak ada batasan aurat antara keduanya. Hal ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa aurat antara suami istri adalah kemaluan, sehingga tidak boleh suami atau istri memandang kemaluan pasangannya. Ini adalah pendapat lemah dan terbantah dengan hadits yang sedang kita kaji (rumaysho).

Baca juga: Cinta yang Layu

Saat mandi bersama pasangan, anda bisa juga mendapat keuntungan lain yakni bisa saling menyabuni satu sama lain. Terutama pada bagian tubuh yang anda atau pasangan anda sulit jangkau misalnya bagian belakang. Sehingga saat mandi anda lebih bersih daripada biasanya.

Nah ini saja yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini. Semoga artikelnya bermanfaat bagi pembaca sekalian. Salam face184






  • Hadits tentang Wanita dan Hubungannya dalam Mendidik Anak Laki-Laki

    keluarga

    Wirawan - Okey, kali ini saya membuat tulisan yang masih ada kaitannya dengan tema keluarga Islami. Perlu diketahui sejak awal bahwa pembentukan keluarga yang Islami adalah salah satu aspek yang penting dalam pembentukan generasi yang cemerlang. Siapa pun yang mendambakan kecemerlangan generasi masa depan yang lebih baik, maka harus memperhatikan sejak dari awal bagaimana membina dan mendidik anak-anak dalam keluarga.
    mendidik-anak-laki



    Islam sebagai jalan hidup bagi ummat manusia juga memberikan landasan dan pedoman dalam mengatur dan membina keluarga.

    Namun, pada tulisan ini saya akan membahas tentang hadits tentang wanita, yakni hadits kemuliaan wanita atau ibu dalam Islam. Sudah umum atau acapkali kita dengar bahwa di dalam Islam seorang ibu menempati posisi yang sangat luar biasa. Sebagaimana dalam hadits berikut ini.

    Ada seseorang datang menemui Nabi SAW dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku selayaknya berbuat baik?’ Beliau menjawab, ‘Kepada ibumu !’ Orang tadi bertanya kembali, ‘Lalu kepada siapa lagi? Rasulullah menjawab, ‘Ibumu.’ Kemudian ia mengulangi pertanyaannya, dan Rasulullah tetap menjawab, ‘Kepada ibumu!’ Ia bertanya kembali, ‘Setelah itu kepada siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Kepada bapakmu!'” (Bukhari: 5971, Muslim: 2548).

    Dalam hadits di atas, seorang sahabat meminta nasihat kepada Rasulullah SAW dan Rasul SAW memberikan nasihat agar berbuat baik kepada orang tuanya terutama kepada ibunya. Penghormatan dan perlakuan baik kepada ibu bahkan sampai diucapkan sebanyak tiga kali.

    Hadits di atas bukan semata berlaku kepada sahabat yang meminta wasiat atau nasihat kepada Rasul SAW. Namun juga berlaku kepada seluruh ummat Rasul SAW sampai akhir zaman.

    Peran ibu dalam rumah tangga memang tidak bisa dipungkiri sangat luar biasa. Seorang ibulah yang mengandung dan melahirkan anak-anaknya. Setelah dilahirkan pun tugas seorang ibu belum usai, ia harus menyusui anaknya selama 2 tahun. Setelah mendidik dan mengajar anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Maka pantaslah disebutkan bahwa pilar dalam bernegara adalah perempuan melihat betapa perempuan atau ibu memainkan peranan yang sangat penting dan vital dalam masa-masa awal pembentukan keluarga yang berarti juga merupakan fase awal dalam pembentukan generasi ummat manusia.

    Tugas pendidikan dan penanaman moralitas juga tidak lepas dari peran ibu. Mendidik anak laki-laki dan perempuan harus dibedakan oleh orang tua. Ini karena adanya perbedaan psikologis antara anak laki-laki dan perempuan dan lebih lanjut di masa yang akan datang, peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan juga berbeda sehingga sejak dari awal dibutuhkan pemisahan cara mendidik.

    Mendidik Anak Laki-Laki
    Anak laki-laki pada umumnya secara psikologis lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya. Jika seorang anak mempelajari keteladanan dan kepemimpinan pada ayahnya, maka ia akan belajar tentang kasih sayang pada didikan tangan ibunya.

    Ada hubungan yang erat bahwa anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya ketimbang ayahnya. Ini tidak lain karena secara psikologis seorang laki-laki membutuhkan kasih sayang lebih, sehingga sosok itu hanya ia bisa dapat di dalam keluarga melalui tangan ibunya.

    Hal ini akan sangat bermanfaat saat ia beranjak dewasa dan membina keluarga yang baru karena ia bisa memahami dengan jelas tentang bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik dalam pergaulan dan bagaimana ia seharusnya bersikap baik kepada istrinya kelak.

    Demikianlah pembahasan singkat kami, anda bisa juga membaca artikel lain dari kami yang berjudul "Rasa Was-Was Keluarga Baru". Semoga apa yang kami sajikan dapat bermanfaat sedikit atau banyak kepada pembaca sekalian. Salam.




  • CINTA YANG LAYU

    Cinta

    Wirawan - Pernah ada sahabat setia yang curhat, begini isi curhatannya :
    ilustrasi cinta layu


    “Assalamu’alaikum kang.
    Kang, saya mau curhat, tapi malu, bingung juga harus memulainya dari mana, tapi saya gak tenang kalau semua ini harus terus saya pendam. Saya gak tau harus cerita ke siapa, bahkan setiap saya ke luar rumah, tatapan-tatapan sinis selalu mendarat, gosip-gosip miring tentang saya nusuk banget rasanya. Memang ini sepenuhnya salah saya, dan sekarang saya bingung dengan status saya yang sebenarnya. Di bilang janda, saya belum pernah menikah. Di bilang gadis, tapi kang.. maaf, kegadisan saya telah hilang, tepatnya di renggut mantan pacar saya. Tapi semua ini membaut saya sadar kang, kalau berhubungan dengan lawan jenis itu tidak baik, bahkan merugikan kaum perempuan. Saya dibuang gitu aja sama mantan pacar saya setelah dia sukses merenggut kesucian saya. Saya udah berulang kali minta pertanggung jawaban, tapi dia ngilang, gak tau kemana sampe sekarang. Sampai sekarang belum ada lelaki yang mendekati saya, kang. Pernah dulu ada lelaki yang mendekati bahkan niat untuk menikahi, namun setelah ia tau masa lalu saya, ia mundur gitu aja kang. Lantas, apa saya gak berhak untuk di cintai kang? Apa gak ada orang yang mau nerima saya apa adanya kang? apa saya harus akhiri hidup saya aja kang?. Mohon solusinya kang :’( “

    Sahabat, terlebih sahabat muslimah. Apa yang di rasakan sahabat saat membaca curhatan salah satu dari sekian banyak juta wanita yang bernasib sama? Saat nasib membawa diri dalam kenaasan, saat masa penantian harus berakhir kandas di tengah jalan, Saat kebanggaan hilang sebelum masanya datang.

    Sedihkah?
    Marahkah?
    Kesalkah?

    Baca juga: Berpikir Secara Jernih

    Yang jelas apa yang sudah terjadi tak bisa kembali. Namun, berdiam diri bukanlah solusi, bunuh diri juga bukan satu-satunya jalan terbaik. Selagi umur masih ada, kesempatan bertaubat masih terbuka, apa salahnya untuk mendekatkan diri pada-Nya?

    Untukmu yang sedang dilanda nestapa, yang saat ini tengah dalam putus asa, atau bahkan kehilangan jati diri hingga perjalanan hidup serasa mati rasa, jika dosa kita sebesar gunung yang paling tinggi, maka ampunan Allah lebih luas dari lautan samudera. Jika kesalahan kita sebanya bumi dan isinya, maka kasing sayang-Nya jauh lebih besar dari semesta raya.

    Karena setiap manusia tak luput dari dosa, dan sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak bertaubat memohon ampunan saat berdosa.

    Setuju?

    Setia Furqon Kholid

    Tag :cinta



  • Rasa Was-Was Keluarga Baru

    keluarga

    Ras was-was bisa timbul kapan saja dan tanpa pandang bulu, akan kena siapa saja.

    Ras was-was atau khawatir biasanya muncul dalam benak kita. Karena ketidaktahuan akan masa depan yang akan menimpa kita kelak. Sangat manusiawi, terlebih lagi tentang sikap was-was ini juga disebutkan dalam Alquran, dalam surah An-Nas yang dinyatakan bahwa sifat was-was dimunculkan syaithon ke dalam dada manusia.

    Persoalan was-was juga bisa menimpa keluarga yang baru menikah. Karena semua serba baru maka mereka akan was-was dengan kehidupan baru yang akan mereka jalani.

    Sebenarnya jika kita ingin melihat lebih dalam, sumber was-was itu sebenarnya berasal dari ketidaktahuan. Ketidak tahuan akan suatu perkara akan memunculkan sifat was-was dalam diri.

    Contoh misalnya, dalam manajemen keuangan keluarga kelak. Karena, sebelum menikah suami atau istri biasanya hanya mengelolah uang sendiri. Tidak memikirkan terlalu jauh tentang masa depan keluarga. Sehingga ini mengakibatkan pasangan akan mudah was-was.

    Untuk mengakali hal tersebut, maka tiada hal yang perlu dilakukan kecuali melakukan persiapan yang baik. Semisal, Yang Sering Terlupa dalam Pengaturan Keuangan Keluarga adalah konsep tentang rezeki itu sendiri. Banyak orang yang beranggapan rezeki itu hanya uang sehingga pada akhirnya mereka mati-matian mencari uang tanpa tahu apa makna rezeki itu. Sehingga disaat ia tidak mendapat banyak uang misalnya, maka ia menganggap rezekinya sedikit. Padahal ia dalam kondisi sehat, banyak teman, tiada masalah dengan orang lain, dan lain sebagainya.

    Rasa was-was ini bisa pula diobati dengan cara berbaik sangka dengan masa depan. Selalu berpikir positif tentang masa depan yang akan dirasakan.

    Berbaik sangka ini akan tumbuh dengan baik, jika kedua pasangan mau bekerja dengan sebaik-baiknya untuk menangkal semua kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Seperti, rasa was-was istri saat hamil atau melahirkan kelak. Maka untuk sedikit menghilangkan rasa cemas itu maka sang istri harus tahu lebih banyak ilmu tentang kehamilan dan saat melahirkan.

    Pun begitu, saat merawat anak-anaknya kelak. Ia harus dengan segera mempelajari dan memahami ilmu parenting agar kelak saat mendapatkan anak ia bisa dengan cekatan merawat, menjaga dan mendidik anak-anaknya.

    Tag :cemas



  • Berpikir Secara Jernih

    pengembangan diri

    Dalam menyelesaikan suatu masalah dibutuhkan pikiran jernih untuk menuntaskannya. Oleh karena itu kejernihan dalam berpikir sangat diutamakan.

    Sebab semua itu, syariah Islam secara tegas sangat menjaga akal manusia dari kerusakan. Salah satu hal ini dapat kita pahami bahwa dalam Islam, seseorang tidak boleh diambil keputusannya jika ia belum baligh. Ia tidak bisa dijadikan seorang pemimpin jika memang belum sampai sempurna akalnya untuk berpikir.

    Selain itu, Islam juga melarang bagi pemeluknya untuk mengkonsumsi hal-hal yang bisa mencegah dirinya berpikir jernih. Seperti, larangan bagi ummatnya untuk mengkongsumsi minum-minuman keras, narkoba dan hal-hal yang mempunyai efek memabukkan.

    Semua itu tiada lain agar manusia bisa berpikir dengan jernih. Akal manusia merupakan anugerah Allah yang sangat besar bagi ummat manusia. ia pun menjadi pembeda antara manusia dengan hewan.

    Untuk berpikir dengan jernih tidak hanya dengan menjaga asupan makanan atau minuman yang bisa menghalangi fungsi akan untuk berpikir dengan baik, namun juga suasana hati pun harus ditata sedemikian rupa agar keputusan yang diambil juga merupakan keputusan yang adil dan mantap.

    Hal ini dikarenakan suasana hati yang tidak kondusif, semisal terlalu emosional akan membuat keputusannya terhadap suatu perkara bisa menjadi tidak adil. Disaat hatinya sedih, akan membuat ia malas untuk menggunakan akalnya untuk berpikir lebih jauh. Dan disaat marah misalnya, akan membuat ia berpikir pendek terhadap suatu hal. Singkatnya, hati tenang berpikirpun menjadi jernih.

    selain faktor di atas, untuk berpikir dengan jernih seseorang harus tahu dengan mendalam tentang fakta yang ia inderai. ia tidak boleh hanya melihat sebatas kasus atau obyek berpikir hanya sebatas pada bagian permukaan saja. Pemikirannya harus mendalam dan cemerlang.

    Semisal, disaat ia ingin menikah. Ia dikatakan berpikir dangkal jika hanya melihat perempuan atau laki-laki hanya sebatas pada tampilan fisik saja. Cantik atau gantengnya.

    Ia bisa dikatakan berpikir secara mendalam setelah meneliti lebih jauh tentang hal itu semua. Semisal ia tambah dengan mengetahui lebih jauh sifat-sifat orang tersebut, apakah termasuk memiliki pribadi yang baik atau dalam keseharian pribadi dan karakternya termasuk buruk.

    Demikianlah uraian singkat mengenai berpikir jernih ini. Semoga memberi manfaat bagi pembacanya.